Senin, 23 April 2012

Try To Reflect




 Take a few minutes a day for reflection. Do it in a calm morning, soon after waking. Or at night just before heading to bed. Merenunglah in silence. Do not use the mind to look for different answers. In your reflections are not looking for answers. Simply make friends with the rest then you will get the clarity of mind. The answer comes from your mind is clear. For days you are busy with various things. Realize that your mind needs a break. Not enough just to sleep. You need to sleep in the waking state. Merenunglah and find inner peace.

The mind is like that used soapy water are stirred in a glass. The more soap is mixed with the turbid water. The faster you stir the swirling faster and faster. Pondering the stop mixing. And let the water slowly rotating. Note the soap particles down one by one, touching the bottom of the glass. Really slowly. Without voices. In fact you can hear the soap particles entirely. Now you get clear water left on the surface. Is not that clear water can pass the light. So it is with a clear mind.

Small review from my life



Aku tidak tahu mesti bagaimana lagi, entah harus aku hentikan dimana “langkahku”. Semakin lama, maka semakin jauh aku “melangkah” dalam sebuah “keanehan”. Jejak-jejak langkah “aneh” yang secara sadar ku buat hanya untuk keinginan sesaat. Mungkin jika orang lain tahu apa yang telah terjadi pada “langkahku”, maka kupastikan akan sulit orang itu untuk dapat mempercayai. Terimakasih Ya Allah, hingga detik ini Engkau masih “sudi” menyembunyikan “langkah-langkah kotorku”.
Haah… lelah rasanya, penat sudah rasa dihati ini. Jiwa ini akan menjadi sakit bila aku terus selalu seperti ini. Entah apa yang terjadi, seolah ada kesenjangan antar diri dalam lingkup yang berbeda. Apakah kenyamanan jiwa hanya ada pada kondusifitas..?? entah yang mana diri sebenarnya. Satu sisi aku harus menjadi teladan, akan tetapi disatu sisi yang lain seolah aku menjadi seorang yang “tidak ber-ilmu”. Ilmu dan Kepahaman yang telah ada pada diriku seketika berubah menjadi perisai-perisai bagi “langkah-langkah kotorku”. Astaghfirullah….!.
Sampai detik ini pun aku tidak mengerti mengapa ini dapat terjadi. Kini Baru kurasakan Istiqomah itu ternyata lebih sulit daripada memulai. Karena ketika gagal  bertahan untuk istiqomah, maka sejatinya aku harus memulai segalanya untuk kembali seperti semula. Dan ternyata kini ku berada dalam golongan manusia yang selalu berfikir pada akhir, bukan diawal. Waktu-waktu yang kupakai untuk melangkah dalam sekejap habis dengan kesia-siaan, habis tanpa pemaknaan yang berarti, habis hanya untuk berbohong agar dapat menutupi segala hal yang tidak sesuai dengan “keinginan diriku”, tanpa kemudian merasa tahu dan berfikir bahwa semua waktu itu harus kupertanggungjawabkan kelak. Ampuni hamba-Mu ini Ya Allah…
 Jujur, aku butuh “pegangan” yang bukan hanya bisa menahan aku ketika akan jatuh. Tetapi “pegangan” yang dapat mengingatkan ku jauh sebelum aku akan jatuh. Aku jenuh akan semua system dan “tetek bengeknya”, akan semua penilaian-penilaian “manusiawi” yang hanya berdasarkan pada “penampakan” belaka, kemudian seolah berkata bahwa saya tahu “hitam-putih” nya dirimu!  Tanpa kemudian mengerti bagaimana sesungguhnya. Pensil yang berada didalam gelas berisi air akan tetap dikatakan bengkok, walaupun pada kenyataan nya pensil itu lurus. Apakah semua harus “menyerah” pada kondusifitas keadaan..??
Bukankah sudah menjadi “manusiawi” bahwa penyesalan itu hampir selalu ada pada akhirnya. Akan tetapi, seperti apa seharusnya aku menyudahi segala “langkah-langkah kotorku” dengan segala penyesalan nya ini..? apakah pensil harus keluar dari gelas yang berisi air hanya untuk dikatakan bahwa pensil itu tidak bengkok atau bahkan tidak patah..?! penilaian manakah yang paling sejati untuk “diakui”..
Lalu harus bagaimana…??
Takkan mungkin aku terus bertahan dalam keadaan seperti ini, cukup sudah kelelahan-kelelahan yang tercipta pada diri ini hanya untuk berlari dan sembunyi dari sebuah kenyataan bahwa langkahku sudah sangat “kotor” Ya Allah….
 Ya Allah aku takut, takut sekali…..
Aku takut, jikalau aku tidak punya waktu lagi untuk dapat “membersihkan” langkah-langkahku.
Aku takut, walaupun kemudian engkau memberiku waktu, tapi kemudian Engkau “enggan” membersihkan dan menerima “langkah-langkahku” ini, meskipun Ampunan-Mu sangatlah seluas.
Aku takut jikalau diriku tidak sempat lagi membuat dua orang yang sangat menyayangiku berbahagia dan bangga akan diriku. Adalah penyesalan bagi diriku, jika mereka berdua kelak tidak mempunyai kesempatan lagi untuk dapat melihat aku menjadi berhasil, merasakan kebahagiaan, dan kasih sayang dari diriku hanya karena kelalaian dan ke-egoisan diriku. Bukankah RidhoMu juga ada pada Ridho mereka berdua…. Maafkan aku ayah, ibu, hingga detik ini kalian berdua belum merasakan semua hal itu dari diriku.
 Aku takut, sudah tidak ada lagi tempat bagi diriku dan “langkahku” yang telah kotor ini untuk dapat bergabung dengan “langkah” orang-orang yang Engkau Ridhoi. Asstagfirullah………………..
Ya Allah Semoga dengan datangnya bulan nan suci ini, hamba bisa membersihkan langkah-langkahku, dan menjadi lebih baik dari sebelumnya…………….! Amin….!


FEEL





wanita, dengan insting super sensitif yang di milikinya. Mereka tumbuh dengan kemampuan untuk MEMAHAMI segala sesuatu melalui Rasa. Ya, Perasaan mereka. Dan tak ada lain ketika mereka butuh Pria, bukan tuk kehangatan. bukan tuk kecupan, bukan pula sekedar memeluk berpagutan. Tapi untuk sebuah hal yang bahkan mereka sen...diri tak sadar. Bahwa Mereka ingin di Yakinkan, terhadap segala apa yang mereka telah Rasakan.