Aku
tidak tahu mesti bagaimana lagi, entah harus aku hentikan dimana
“langkahku”. Semakin lama, maka semakin jauh aku “melangkah” dalam
sebuah “keanehan”. Jejak-jejak langkah “aneh” yang secara sadar ku buat
hanya untuk keinginan sesaat. Mungkin jika orang lain tahu apa yang
telah terjadi pada “langkahku”, maka kupastikan akan sulit orang itu
untuk dapat mempercayai. Terimakasih Ya Allah, hingga detik ini Engkau
masih “sudi” menyembunyikan “langkah-langkah kotorku”.
Haah…
lelah rasanya, penat sudah rasa dihati ini. Jiwa ini akan menjadi sakit
bila aku terus selalu seperti ini. Entah apa yang terjadi, seolah ada
kesenjangan antar diri dalam lingkup yang berbeda. Apakah kenyamanan
jiwa hanya ada pada kondusifitas..?? entah yang mana diri sebenarnya.
Satu sisi aku harus menjadi teladan, akan tetapi disatu sisi yang lain
seolah aku menjadi seorang yang “tidak ber-ilmu”. Ilmu dan Kepahaman
yang telah ada pada diriku seketika berubah menjadi perisai-perisai bagi
“langkah-langkah kotorku”. Astaghfirullah….!.
Sampai
detik ini pun aku tidak mengerti mengapa ini dapat terjadi. Kini Baru
kurasakan Istiqomah itu ternyata lebih sulit daripada memulai. Karena
ketika gagal bertahan untuk istiqomah, maka sejatinya aku harus memulai
segalanya untuk kembali seperti semula. Dan ternyata kini ku berada
dalam golongan manusia yang selalu berfikir pada akhir, bukan diawal.
Waktu-waktu yang kupakai untuk melangkah dalam sekejap habis dengan
kesia-siaan, habis tanpa pemaknaan yang berarti, habis hanya untuk
berbohong agar dapat menutupi segala hal yang tidak sesuai dengan
“keinginan diriku”, tanpa kemudian merasa tahu dan berfikir bahwa semua
waktu itu harus kupertanggungjawabkan kelak. Ampuni hamba-Mu ini Ya
Allah…
Jujur,
aku butuh “pegangan” yang bukan hanya bisa menahan aku ketika akan
jatuh. Tetapi “pegangan” yang dapat mengingatkan ku jauh sebelum aku
akan jatuh. Aku jenuh akan semua system dan “tetek bengeknya”,
akan semua penilaian-penilaian “manusiawi” yang hanya berdasarkan pada
“penampakan” belaka, kemudian seolah berkata bahwa saya tahu
“hitam-putih” nya dirimu! Tanpa kemudian mengerti bagaimana
sesungguhnya. Pensil yang berada didalam gelas berisi air akan tetap
dikatakan bengkok, walaupun pada kenyataan nya pensil itu lurus. Apakah
semua harus “menyerah” pada kondusifitas keadaan..??
Bukankah
sudah menjadi “manusiawi” bahwa penyesalan itu hampir selalu ada pada
akhirnya. Akan tetapi, seperti apa seharusnya aku menyudahi segala
“langkah-langkah kotorku” dengan segala penyesalan nya ini..? apakah
pensil harus keluar dari gelas yang berisi air hanya untuk dikatakan
bahwa pensil itu tidak bengkok atau bahkan tidak patah..?! penilaian
manakah yang paling sejati untuk “diakui”..
Lalu harus bagaimana…??
Takkan
mungkin aku terus bertahan dalam keadaan seperti ini, cukup sudah
kelelahan-kelelahan yang tercipta pada diri ini hanya untuk berlari dan
sembunyi dari sebuah kenyataan bahwa langkahku sudah sangat “kotor” Ya
Allah….
Ya Allah aku takut, takut sekali…..
Aku takut, jikalau aku tidak punya waktu lagi untuk dapat “membersihkan” langkah-langkahku.
Aku
takut, walaupun kemudian engkau memberiku waktu, tapi kemudian Engkau
“enggan” membersihkan dan menerima “langkah-langkahku” ini, meskipun
Ampunan-Mu sangatlah seluas.
Aku
takut jikalau diriku tidak sempat lagi membuat dua orang yang sangat
menyayangiku berbahagia dan bangga akan diriku. Adalah penyesalan bagi
diriku, jika mereka berdua kelak tidak mempunyai kesempatan lagi untuk
dapat melihat aku menjadi berhasil, merasakan kebahagiaan, dan kasih
sayang dari diriku hanya karena kelalaian dan ke-egoisan diriku.
Bukankah RidhoMu juga ada pada Ridho mereka berdua…. Maafkan aku ayah,
ibu, hingga detik ini kalian berdua belum merasakan semua hal itu dari
diriku.
Aku
takut, sudah tidak ada lagi tempat bagi diriku dan “langkahku” yang
telah kotor ini untuk dapat bergabung dengan “langkah” orang-orang yang
Engkau Ridhoi. Asstagfirullah………………..
Ya
Allah Semoga dengan datangnya bulan nan suci ini, hamba bisa
membersihkan langkah-langkahku, dan menjadi lebih baik dari
sebelumnya…………….! Amin….!